Kemarin, seorang anak perempuan kelas 4 SD datang dan bercerita bahwa dirinya telah dipukuli oleh neneknya. Apa sebab? Hari Minggu yang lalu dia diajak 2 temannya untuk pergi seharian dari pagi hingga sore. Kemana? MALL!!! Ia dan teman-temannya pengen bermain di TIMEZONE
Inilah masalah yang sering dihadapi oleh anak-anak kampung diperkotaan, yakni pengaruh gaya hidup hedonis dan konsumtif. Ditengah derasnya arus teknologi dan informasi yang semakin mudah diakses, anak-anak ini tumbuh tanpa pendampingan dari orang tua. Seperti gadis kecil tadi, kedua orang tuanya bekerja di Jakarta dan ia tinggal bersama neneknya. Sungguh, bagi anak-anak ini, kejahatan dunia nyata dan maya mengintai mereka.
Seharian membersamai anak-anak di lereng Merapi, saya tidak menemukan kekhawatiran itu.Anak-anak merapi terlihat lebih ulet, cerdas dan kretif. Mereka bisa betah seharian berada dalam di dalam ruangan hanya dengan dibekali pisau pahat, botol bekas, lem dll. Berbagai kreasi mereka hasilkan, hampir setiap anak terampil membuat kalung, gantungan kunci, tempat pensil dompet dll. Tak seorangpun yang terlihat ingin beranjak dari tempat itudari pagi hingga petang. Dan ketika acara harus usai, mereka langsung menyalakan TV, dan acara yang mereka pilih adalah Sepak Bola.
Masalahnya tak setiap hari mereka bisa menikmati kegiatan seperti ini. Sebagian besar dari mereka telah kehilangan keluarga, rumah, sahabat, mainan dan perlengkapan sekolah. Di mata mereka pun masih tersisa trauma atas musibah yang telah meluluhlantakkan kampung halamannya, their old playground.

Di tempat yang lain, yang mungkin banyak dari kita yang belum menjumpai secara langsung, anak-anak tak bisa berkreasi dan berkarya sama sekali, tak sanggup mengangkat kepala, tak sanggup berdiri, tak sanggup beranjak dari tempat tidurnya. Tubuh mereka kurus kering, lemah tak berdaya. Mereka menderita gizi buruk.
Sahabat, merekalah masa depan terbaik Indonesia
Yuk peduli, apapun dimanapun, dengan memberikan sedikit dari apa yang telah dimiliki oleh anak-anak kita.