Feeds:
Posts
Comments

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 5,500 times in 2011. If it were a NYC subway train, it would take about 5 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Saya sadar betul, ketika menulis ini, saya belum sepenuhnya menjadi seorang muslimah yang kaffah, sadar betul bahwa bekal ilmu yang dimiliki masih sangatlah sedikit, apalagi jika dilihat dari penampilan, cara saya berkerudung, menutup aurat masih jauh dari sempurna. Tapi, saya masih terus berproses, sedikit demi sedikit menambah ilmu, memperbaiki penampilan juga akhlak hingga suatu saat nanti benar-benar menjadi seorang muslimah yang kaffah, seorang muslimah yang di ridhoi oleh Nya, yang kelak di surgaNya akan membersamai para bidadari.

Ahh, siapa yang tak ingin mendapat gelar muslimah sholihah. Gelar tertinggi yang diberikan oleh Allah AWT kepada kaum wanita yang taat tunduk kepada segala aturan Nya yang salah satunya adalah memanjangkan kerudungnya hingga ke dadanya.

Saya masih ingat pesan salah satu ustazah saya ketika saya pertama kali belajar lebih jauh tentang Islam, ajakan berkerudung di berikannya dengan cara yang menurut saya sangat bijaksana, tanpa ada paksaan sama sekali meskipun jelas, di usia saya saat itu saya sudah menyandang kewajiban untuk menutup aurat, seperti yang disebut dalam surat An Nur ayat 31.

Continue Reading »

Panggilan Lirih itu..

Malam itu setelah membagikan mukena kepada ibu-ibu korban kebakaran Kalianyar di gang II, saya melewati gang sempit, menuju ke gang I, di kanan kiri terlihat sisa-sisa rumah yang telah hangus terbakar, hanya tersisa puing-puing runtuhan rumah yang belum bisa mereka bangun kembali. Beberapa yang temboknya masih utuh, menggunakan terpal sebagai penutup pengganti atap rumah. Jalanan gelap, karena listrik sepertinya memang masih dimatikan oleh PLN. Ya, kebakaran di akhir bulan Oktober itu memang menghanguskan setidaknya 30 rumah. Itulah mengapa beberapa organisasi relawan di Surabaya mengadakan aksi sosial bersama untuk membantu para korban kebakaran tersebut.

Sedikit saya mempercepat langkah melewati gang sempit itu, ketika di sudut gang ada suara lembut yang memanggil nama saya. Spontan saya menoleh, dan tersenyum melihat seorang gadis cilik dengan rambut keriting, tersenyum memandang ke arah saya. Saya pun melanjutkan langkah kaki, karena masih harus membagikan mukena, amanah dari para donatur.

Setelah urusan mukena beres, saya berpamitan kepada ibu – ibu yang malam itu berkumpul di posko logistik. Hingga suara lembut itu kembali terdengar lirih,”Mbak Diana…”

Saya pun menoleh, oh ternyata gadis cilik di ujung gang itu tadi, kemudian saya menghampirinya.

Sore, sebelum membagikan mukena saya memang sempat memberikan sedikit permainan kepada anak-anak di kampung tersebut. Namun saya tak menyangka kalau ternyata ada yang masih mengingat nama saya.

Saya tanyakan nama dan sekolahnya, kemudian mengelus pipi dan rambutnya,”Sekolah yang baik biar pintar ya..,”pesan saya. “Mbak harus pulang dulu..,”saya tersenyum yang kemudian di balas dengan anggukan dan senyuman.

Ahh.. panggilan lirih itu, seorang gadis kecil yang sedang berduka, dengan tatapan mata yang bersahabat..membuat siapa saja yang terpanggil malam itu, tergerak hati untuk terus peduli dan berbagi. Insya Allah.

Rasa Itu..

Rasa itu..

Datang dengan tiba-tiba

Rangkaian kata tanpa nada

Begitu mendera

Tanpa suara

Rasa itu..

Selalu menyapa dalam kata

Membawa tawa

Menghapus luka

Meski terkadang getir terasa

Rasa itu..

Tersembunyi di antara kata

Terselip di celah – celah suku kata

Tak mudah terbaca

Kecuali

Oleh rasa yang sama..

Sore itu, setelah sesi trauma healing bagi anak-anak, giliran ibu-ibu korban kebakaran Kalianyar Surabaya yang memenuhi ruangan Balai RW Kalianyar Wetan. Tampak senyum sumringah terpancar dari wajah-wajah mereka. Ya, sore itu kami membawa sejumlah mukena yang dikumpulkan melalui Gerakan Mukena untuk Sahabat (GEMAS ). GEMAS adalah salah satu program inisiasi dari relawan MRI Surabaya, sebuah gerakan untuk mengumpulkan dan membagikan mukena kepada sahabat-sahabat yang tertimpa musibah.

Sejak digulirkannya GEMAS hari Selasa 15 November 2011, antusias para sahabat untuk berdonasi mukena cukup luar biasa. Sahabat dari berbagai kota di Indonesia turut memberikan sumbangsihnya berdonasi mukena. Hingga sampai dengan hari Jumat 18 November 2011, tak kurang dari 60 mukena kami terima untuk program Gemas Peduli Kalianyar. Dan sejumlah itu pula yang sudah kami distribusikan langsung kepada korban kebakaran Kalianyar Surabaya pada 19 November 2011.

Pembagian mukena bagi warga Kalianyar yang dibantu oleh Ibu Lika, Ibu Wakil Ketua RW, berjalan cukup lancar, tidak semua bisa mendapatkan mukena, kami prioritaskan dalam satu rumah tersedia satu mukena, jika dalam satu rumah itu terdapat banyak KK, maka kami akan memberikan lebih. “matur suwun ya mbak, aku pas ga duwe mukena,”ujar beberapa ibu sambil mencoba mukena barunya.

Tepat setelah kami membagikan mukena, sayup-sayup terdengar adzan Maghrib berkumandang, dan ibu-ibupun bersiap melaksanakan sholat Maghrib, dengan mukena baru tentunya.

Follow @SahabatGemas

http://sahabatgemas.blogspot.com/

Leader and Empathize

Beberapa hari yang lalu saya mendapat curhatan dari seorang sahabat yang berprofesi sebagai juru pungut (jungut) pada sebuah lembaga sosial. Akhirnya beliau beserta tiga rekan seprofesinya memutuskan untuk resign dari lembaga tersebut dengan alasan tidak tahan lagi dengan perlakuan pimpinannya yang selalu marah-marah dan tidak pernah meng”orang”kan mereka. Mereka tidak pernah dilibatkan dalam pembicaraan-pembicaraan tentang suatu kegiatan, padahal dalam hubungannya dengan donatur, mereka adalah orang pertama yang mendapat pertanyaan atau komplain dari donatur. Kasarannya, wis tugasmu hanya cari donatur dan nagih, ga usah turut campur urusan lembaga, titik. Si pemimpin tadi lupa bahwa mereka lah roda penggerak utama bagi kelancaran aliran dana yang selama ini mereka dapatkan. Tak peduli hujan, panas, macet, banjir bersedia mereka lalui demi kelangsungan hidup lembaga tersebut. Gaji mereka tentu saja tak seberapa dibanding dengan apa yang telah mereka lakukan, meskipun gaji bukanlah sesuatu yang mereka tuntut, mereka sadar pekerjaannya adalah untuk kepentingan umat. Mereka hanya ingin di dengarkan.

Lalu apa yang terjadi ketika keempat jungut tadi berhenti secara bersamaan dan mendadak, tentu saja si pemimpin marah dan yang pasti dia bingung. Bukan saja karena harus mencari karyawan dalam waktu dekat, tetapi keempat jungut andalan itu adalah karyawan yang telah bekerja sejak lembaga itu berdiri dan mereka telah membangun hubungan kekeluargaan yang erat dengan para donatur. Loyalitas donatur pun telah beralih kepada si jungut, bukan pada lembaga tersebut. Sehingga ketika para jungut itu berpindah ke lembaga lain, maka sebagian besar para donatur pun mengalihkan donasinya kepada lembaga tersebut. Continue Reading »

Namaku Ramadhan

Namaku Ramadhan,

Kedatanganku selalu dirindukan.

Pertemuan denganku sangat dinantikan.

Dan jika aku telah datang,

Mereka menyambutku dengan gembira.

Mereka bersyukur, bersenandung syahdu pada Penciptaku.

 

Namaku Ramadhan,

Ragaku adalah puasa,

Lisanku adalah dzikir,

Hatiku adalah istighfar,

Tanganku adalah sedekah,

Senandungku adalah shalawat,

 

Namaku Ramadhan,

Aku berteman dengan AlQuran.

Bersahabat dengan sujud-sujud panjang nan khusyu’,

Pada malam yang syahdu.

Namaku Ramadhan,

Kutundukkan pandangan dan kualihkan pendengaran dari yang haram.

Ku kasihi anak yatim, ku sayangi fakir miskin.

 

Namaku Ramadhan,

Syaitan-syaitan tak berani mengganggu.

Pintu neraka ditutup rapat.

Dan pintu surga terbuka lebar

 

Namaku Ramadhan,

Kelak ketika aku pergi,

Tinggalkan aku dengan bahagia.

Teriring hati yang suci dan jiwa yang bersih,

Menjaga setiap amalanku dengan istiqomah.

 

^Marhaban Ya Ramadhan^

Indonesian Best Future

Kemarin, seorang anak perempuan kelas 4 SD datang dan bercerita bahwa dirinya telah dipukuli oleh neneknya. Apa sebab? Hari Minggu yang lalu dia diajak 2 temannya untuk pergi seharian dari pagi hingga sore. Kemana? MALL!!! Ia dan teman-temannya pengen bermain di TIMEZONE

 

Inilah masalah yang sering dihadapi oleh anak-anak kampung diperkotaan, yakni pengaruh gaya hidup hedonis dan konsumtif. Ditengah derasnya arus teknologi dan informasi yang semakin mudah diakses, anak-anak ini tumbuh tanpa pendampingan dari orang tua. Seperti gadis kecil tadi, kedua orang tuanya bekerja di Jakarta dan ia tinggal bersama neneknya. Sungguh, bagi anak-anak ini, kejahatan dunia nyata dan maya mengintai mereka.

 

Seharian membersamai anak-anak di lereng Merapi, saya tidak menemukan kekhawatiran itu.Anak-anak merapi terlihat lebih ulet, cerdas dan kretif. Mereka bisa betah seharian berada dalam di dalam ruangan hanya dengan dibekali pisau pahat, botol bekas, lem dll. Berbagai kreasi mereka hasilkan, hampir setiap anak terampil membuat kalung, gantungan kunci, tempat pensil dompet dll. Tak seorangpun yang terlihat ingin beranjak dari tempat itudari pagi hingga petang. Dan ketika acara harus usai, mereka langsung menyalakan TV, dan acara yang mereka pilih adalah Sepak Bola.

 

Masalahnya tak setiap hari mereka bisa menikmati kegiatan seperti ini. Sebagian besar dari mereka telah kehilangan keluarga, rumah, sahabat, mainan dan perlengkapan sekolah. Di mata mereka pun masih tersisa trauma atas musibah yang telah meluluhlantakkan kampung halamannya, their old playground.

Di tempat yang lain, yang mungkin banyak dari kita yang belum menjumpai secara langsung, anak-anak tak bisa berkreasi dan berkarya sama sekali, tak sanggup mengangkat kepala, tak sanggup berdiri, tak sanggup beranjak dari tempat tidurnya. Tubuh mereka kurus kering, lemah tak berdaya. Mereka menderita gizi buruk.

 

Sahabat, merekalah masa depan terbaik Indonesia

Yuk peduli, apapun dimanapun, dengan memberikan sedikit dari apa yang telah dimiliki oleh anak-anak kita.

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.