Malam itu setelah membagikan mukena kepada ibu-ibu korban kebakaran Kalianyar di gang II, saya melewati gang sempit, menuju ke gang I, di kanan kiri terlihat sisa-sisa rumah yang telah hangus terbakar, hanya tersisa puing-puing runtuhan rumah yang belum bisa mereka bangun kembali. Beberapa yang temboknya masih utuh, menggunakan terpal sebagai penutup pengganti atap rumah. Jalanan gelap, karena listrik sepertinya memang masih dimatikan oleh PLN. Ya, kebakaran di akhir bulan Oktober itu memang menghanguskan setidaknya 30 rumah. Itulah mengapa beberapa organisasi relawan di Surabaya mengadakan aksi sosial bersama untuk membantu para korban kebakaran tersebut.
Sedikit saya mempercepat langkah melewati gang sempit itu, ketika di sudut gang ada suara lembut yang memanggil nama saya. Spontan saya menoleh, dan tersenyum melihat seorang gadis cilik dengan rambut keriting, tersenyum memandang ke arah saya. Saya pun melanjutkan langkah kaki, karena masih harus membagikan mukena, amanah dari para donatur.
Setelah urusan mukena beres, saya berpamitan kepada ibu – ibu yang malam itu berkumpul di posko logistik. Hingga suara lembut itu kembali terdengar lirih,”Mbak Diana…”
Saya pun menoleh, oh ternyata gadis cilik di ujung gang itu tadi, kemudian saya menghampirinya.
Sore, sebelum membagikan mukena saya memang sempat memberikan sedikit permainan kepada anak-anak di kampung tersebut. Namun saya tak menyangka kalau ternyata ada yang masih mengingat nama saya.
Saya tanyakan nama dan sekolahnya, kemudian mengelus pipi dan rambutnya,”Sekolah yang baik biar pintar ya..,”pesan saya. “Mbak harus pulang dulu..,”saya tersenyum yang kemudian di balas dengan anggukan dan senyuman.
Ahh.. panggilan lirih itu, seorang gadis kecil yang sedang berduka, dengan tatapan mata yang bersahabat..membuat siapa saja yang terpanggil malam itu, tergerak hati untuk terus peduli dan berbagi. Insya Allah.



